Thursday, February 20, 2014

Enam Belas Februari

 Aku masih menyimpan baik pesan singkat yang kamu kirimkan padaku enam belas februari lalu. Harusnya aku menghapusnya. Karna aku tahu, itu hanya akan membuatku menangis; untuk kesekian kalinya.
Saat ini, aku juga sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Andai kamu tahu. Aku sedang dalam keadaan bingung harus memulai dari mana untuk melupakan kamu dan semua perasaan-perasaan ini tanpa harus membenci kamu. Aku juga masih sangat sering merindukan kamu. Biasanya –kalau aku merindukanmu- aku mengirimimu pesan singkat, walau hanya sekedar berkata “Lagi apa, kak?” dan menunggu balasan darimu, itu sudah cukup membuat rinduku terobati. Aku ini, wanita macam apa yang punya rindu untuk kamu. Ini memang tak pantas. Sangat tak pantas. Sekarang, tak banyak yang bisa aku lakukan saat rindu yang semakin hari semakin menggebu, yang sebenarnya sudah tak ingin ku rasakan ini hadir. Rasa ingin mengirimimu pesan singkat selalu ada. Bahkan, nomor dengan nama yang sama yang belum pernah ku ganti atau ku hapus dari dua tahun lalu itu masih tersimpan baik dikontak ponselku.
Kamu juga masih sangat sering hadir dalam fikiranku, seperti film yang sedang diputar di Bioskop, tanpa ku minta. Seandainya kamu membaca tulisan ini, aku ingin sedikit menggali ingatanmu; tentangku, tentang pertemuan pertama kita, dan semuanya. Tapi mungkin, kamu sudah lupa atau sengaja melupakannya. 
   Untuk yang satu ini, apa kamu masih ingat, yang terjadi malam minggu sebelum enam belas februari lalu itu? Aku ingatkan. Malam minggu itu, dipesan singkat, aku menyatakan perasaan yang ku pendam dalam diam saat kita bertemu, dalam diam dari setiap sikapku dihadapanmu, dalam diam saat kamu genggam erat tanganku, dalam diam saat tatapan mata aku dan kamu yang pernah saling terbentur diudara, dan dalam segala sikap manis yang pernah kamu tunjukkan padaku dari pertemuan waktu itu, waktu kamu mengajakku menonton dangdutan di acara Hajatan.
    Iya. Wanita pengecut dan dingin ini pernah mencintai kamu. Aku tak sedang berbohong atau bergurau tentang perasaanku. Aku tak pernah berani menjelaskan yang sesungguhnya dihadapanmu saat kita bertemu di sabtu sore sebelum enam belas februari itu. Menjelaskan alasanku mengapa menggukan fotomu untuk display picture bbm-ku. Tapi seketika hatiku terluka, saat kamu takut kedekatan –aku dan kamu- yang bukan teman bahkan tanpa status apa-apa ini diketahui oleh kekasihmu. Aku sangat muak padamu saat itu. Apa kamu tahu? Saat itu mataku sudah tak tahan menampung air mata yang kalau aku tak beranjak cepat untuk pulang, mungkin akan membanjiri pipiku dan terlihat olehmu. Aku sangat tak ingin itu terjadi.
   Aku memang wanita bodoh. Berharap pada seorang pria baik yang sangat mencintai kekasihnya. Aku tak pernah mengerti, mengapa aku bisa jatuh cinta pada pria sepertimu yang tak akan pernah bisa kumiliki. Aku tak pernah ingin egois. Kamu juga pernah bertanya apa yang aku inginkan darimu, kan?. Kalau saat itu aku tak memikirkan perasaan kekasihmu, aku akan menjawab, aku menginginkan kamu menjadi milikku, menemani hidupku sampai hari tuaku. Tapi sekali lagi aku tegaskan, aku tak pernah ingin egois. Aku tak ingin memaksamu.
   Harusnya, sedari dulu aku sudah mengerti. Dengan semua sikap yang kamu tunjukkan padaku, itu sudah menjawab seluruh pertanyaan yang tertanam selama ini dikepalaku, kalau kamu tak pernah menyimpan perasaan yang sama.
  Wanita yang tak pernah kamu anggap ada ini, mengalah. Demi kamu yang pernah menjadikanku persinggahan. Demi kamu yang mungkin sebentar lagi akan bersanding dengannya dipelaminan. Demi kamu yang masih sangat kucintai. Terimakasih untuk semua kebaikanmu yang sering banyak kuminta. Terimakasih untuk seluruh waktu yang pernah kamu bagi untukku. Terimakasih juga untuk semua pengharapanku yang kamu patah dan hempaskan begitu saja. Aku tak berjanji akan cepat mencintai pria lain lagi setelah mencintai kamu. Aku pasti akan dapat pria baik, seperti katamu di pesan singkat, enam belas februari itu.

Ampuni aku yg telah memasuki kehidupan kalian,
mencoba mencari celah dalam hatimu.. - 1



                              Teruntuk kamu, miliknya yang pernah sangat ku perjuangkan, “A”.




_________________
*- 1 :  (Chrisye – Seperti Yang Kau Minta)


Wednesday, December 11, 2013

Cinta Datang Terlambat

  Pagi Desember 2011 itu, terjadi keributan hebat di seberang jalan Rumah Nenekku. Entah apa, yang jelas Aku hanya melihat sekerumunan orang sedang memadati sesuatu di seberang jalan itu. Bukan, bukan mengerumuni tukang sayur yang biasa lewat depan rumah kami. Tapi sesosok wanita paruh baya yang sudah tak sadarkan diri terbaring di kerumunan orang-orang tadi yang ternyata menjadi korban tabrak lari. Aku hanya shock saat itu, saatku lihat wanita paruh baya itu adalah Nenekku. Beruntung saat di periksa Dokter tidak ada luka serius yang dialaminya, hanya terdapat luka ringan dan Beliau disarankankan untuk istirahat total dirumah. Si penabrak pun berhasil tertangkap pada keesokan harinya. Dan Kami pun memutuskan untuk menyelesaikan peristiwa ini secara kekeluargaan.
Namaku Anisa, tapi kebanyakan orang memanggilku 'icha'. Entah dari mana mereka mendapatkan nama panggilan itu, Aku hanya sedikit aneh dengan nama panggilan itu jauh sekali dari nama asliku. Tapi yang jelas, apapun yang diberikan oleh Orang tuaku, itu tentu yang terbaik untukku.
Keluarga besarku sendiri memang cukup terpandang di kota terpencil ini. Walaupun kami pendatang, tapi tak sedikit yang menganggap kami sebagai saudara dari Ibunya si 'anu', Adik dari Neneknya Nenekku, saudara 'sepengais' bungsu. Ah. Masih banyak istilah-istilah yang begitu sangat asing, awalnya. Kehadiran kami pun diterima baik di kota ini. Almarhum Kakekku yang semasa hidupnya mengabdi sebagai Guru, juga sangat dikenal baik oleh banyak orang karena sosoknya yang senang bergaul dengan siapapun, sampai saat beliau wafat ditahun 2009 silam dan banyak menyisakan kenangan manis bagi orang-orang disekelilingnya, sahabat dan khususnya bagi keluarga besar kami.
  Malam pertama saat Nenekku dirawat di rumah, Aku memutuskan untuk menginap. Ditengah-tengah perbincangan kami, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.

    Tok..tok..tok..!! "Assalamu'alaikum.." Teriakan lembut seorang Pria
    "Wa'alaikumsalam.. cari siapa ya?" kataku sambil membukakan pintu
    "Maaf, Ibu Endang nya ada? Kami dari Bank depan. Kami dengar tadi pagi kalau Ibu kecelakaan. Dan kebetulan Ibu salah satu nasabah kami". kata seorang wanita lagi
    "Oh, iya. Mari, silahkan masuk". Kataku lagi sambil mempersilahkan mereka masuk.

  Entah berapa lama mereka ngobrol dengan keluargaku, Aku lekas pergi setelah mempersilahkan mereka masuk. Aku baru pertama kali melihat mereka. Ya, Pria dan wanita yang bekerja tepat di Bank khusus pensiunan depan rumah Nenekku itu sedikit asing bagiku. mereka seperti bukan asli dari kota ini. Yang jelas, saat ku perhatikan saat sedang ngobrol, mereka ramah dan sangat sopan.
Merasa diperhatikan oleh Pria yang baru bertemu beberapa menit, itu tentu sangat aneh. Pria tadi begitu memperhatikanku, sampai menanyakan siapa Aku pada keluargaku.

                                                            * * *
  Satu minggu berlalu. Aku hampir tidak ingat lagi si Pria yang bekerja di Bank depan Rumah Nenekku itu. Aku hanya menyadari bahwa Dia masih memperhatikanku, bahkan diam-diam meminta nomor Handphoneku pada Tanteku dan jelas Dia menghubungiku. Mengirim pesan singkat, bahkan menelfonku dengan telfon kantornya. Aku tidak begitu merespon kehadirannya dihidupku, karena statusku saat itu sedang 'berpacaran' dengan seseorang yang sangat Aku sayangi. Hingga akhirnya, Aku menyesali semuanya.
Awal Januari 2012, kami berpisah. Selain terhalang restu dari orang tuaku, memang hubungan ini sudah tidak ada lagi hal yang harus dipertahankan. Move On itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, dan 'tak semudah mengucapkannya. Harus dari hati yang benar-benar teguh untuk melakukannya. Godaan Move On itu tidak jauh dari ngestalk akun sosialnya, mengingat kenangan saat masih bersama, atau 'gak sengaja terputar lagu kenangan. Aah..Itu memang sebagian dari penghambat sepertinya. Tidak gampang untuk menaklukkan semuanya, yang jelas Aku hanya selalu teringat satu hal:
    "Masalah kehidupan masih banyak, jangan ngabisin waktu buat mikirin orang yang 'gak mikirin kita".

                                                            * * *

  Tiga bulan lamanya sosok yang ku sebut Mr.Right yang bertamu malam itu dan tanpa sadar telah Ku kagumi diam-diam. Dia tidak pernah menghubungiku lagi. Aku hanya berfikir bahwa mungkin Dia sudah bosan menghubungiku, karena Aku tak pernah membalas satu pun dari pesan singkat yang pernah dikirimkannya padaku.
Aku diam-diam meminta nomor handphonenya lewat Tanteku. Jelas Aku yang kali ini menghubunginya. Deg-degan? tentu. Tak Ku sangka, Dia pun ramah saat Aku pertama kali mengunjungi kantornya saat Ia bekerja, menghampriku juga disela-sela kesibukannya dan tentu Dia membalas pesan singkatku.
   Arya. Itulah nama dari si pria yang ku sebut Mr.Right, tentu tidak setampan oppa Jacky Chan Aktor favoriteku, tapi Dia cukup membuatku jatuh hati. Ya, Aku menjulukinya Mr.Right karena kepribadiannya yang menurutku berbeda. Baik, patuh terhadap orang tua, sederhana, rajin sholat dan manja. Itulah beberapa yang ku simpulkan tentangnya, dan dari ibu kostnya juga. Dia memang bukan asli dari kota ini, dan saat itu Ia indekost di dekat rumah Nenekku juga.
Dia sempat mengajakku nonton acara dangdutan disebuah pesta pernikahan dekat Indekostnya pada suatu malam. Lucu memang, inilah hal pertama yang Aku alami dan Aku sangat merasa nyaman setiap kali berada didekatnya.
Tapi rasa nyaman itu hilang seketika, saat terjadi sebuah perbincangan yang cukup mengejutkanku.

    "Waktu malem minggu kemaren, kenapa telfon Icha 'gak diangkat?" Tanyaku penasaran
    "Hahaha.. Oh, mmm.. itu lagi di rumah pacar" Jawabnya gugup
    "Hah?! Serius?!" Tanyaku lagi tak percaya
    "Iya, serius. Ngapain Arya bohong" Katanya meyakinkanku.

 Aku sendiri hanya diam, shock dan rasa ingin pergi darinya, berteriak dan menangis sejadinya. Tapi apa daya, Aku hanya mencoba tersenyum sebisaku. Mencoba menikmati malam itu berdua dengannya yang Ku lihat, Ia begitu menikmati alunan musik dangdut dari balik senyumnya dan mencoba sebisanya tak Ku tunjukkan kekecewaanku saat itu juga.

    "Kok jutek sih. Besok ke kantor yah, ada file Nenek yang harus diambil" Lanjutnya, Ia mencairkan suasana
    "Kenapa Icha? Biasanya juga kalo ada apa-apa si tante yang kesana? Besok Icha mau ke Serang" Kataku polos
    "Ngapain ke Serang?"
    "Pindahan" Jawabku singkat
    "Pindah?" Tanyanya lagi
    "Iya pindah, Icha mau tinggal disana" Jelasku cuek
    "Kalo mau pindah, ngapain dong sekarang ketemu?! Sekalian aja jangan ketemu" Katanya sedikit kesal.
Aku terdiam saat itu. Sedikit tertawa kecil dari balik tubuhnya yang sangat tinggi, melihat kejutekkan yang Ia lakukan.
    "Hehehe.. Sebenernya ngga' pindak kok, cuma mau liburan aja. Maaf ya kak" Kataku sedikit menggodanya
    "Trus, berangkat jam berapa?" Dia mulai meresponku lagi
    "Subuh kayaknya, jam 5an. Kenapa? Mau ikut?" Candaku lagi
    "Yaudah atuh, masuk gih. Besok kan mau berangkat subuh" Katanya, saat mengantarku pulang.

  Dari semenjak pertemuan malam itu, Aku semakin dibuat bingung oleh sikapnya. Kami malah semakin dekat. Tentu, tetap tidak ada hubungan yang jelas. Mulai dari salah satu diantara kami mengirim pesan singkat atau telfon duluan, Aku yang sekedar memberikan surprize kecil dihari ulang tahunnya, sarapan berdua, mengantarkan makan siang untuknya, sampai makan sepiring berdua kami lakukan. Saat suatu ketika perasaan itu muncul kepadaku, yang datang seenaknya diwaktu yang sangat tidak tepat. Yang Aku sendiri pun tak mengerti ini apa. Kami pun hanya bisa bertemu pada malam hari, saat Ia selesai bekerja. Hanya itu waktu senggang yang Ia berikan untukku. Karena setiap week end Ia akan pulang ke rumahnya, rumah yang sesungguhnya dan juga pulang pada kekasihnya. Aku menyadari bahwa ini sangat tidak wajar.
Hingga pada suatu malam kami bertemu, dan Dia sukses membuatku speechless saat sebuah pertanyaan Ia lontarkan kepadaku.

    "Cha, jujur yah. Kamu suka 'gak sama Arya?" Tanyanya mengejutkanku. Aku hanya tertawa lepas tak percaya saat itu.
    "Cha serius, Kamu suka 'gak sama Arya?" Tanyanya lagi dengan nada serius.
    "Kalo ka Arya sendiri?" Kataku
    "Iya. Kalo Icha sendiri, gimana sama Arya?"
    "mmm.. Suka itu beragam. Ada suka karena ngefans, suka biasa aja dan dari hati" Jawabku ragu
    "Kamu bilang gitu karna Arya punya pacar?. Baru pacar kok Cha belum jadi istri, yang nikah aja masih bisa cerai, yang tunangan juga masih bisa putus, apalagi yang pacaran" Jelasnya yang membuatku semakin diam tak percaya.

Aku sangat sadar bahwa saat itu Aku telah melewati kesempatan yang datangnya entah kapan lagi. Kesempatan untuk mengungkapkan perasaaku juga padanya. Kesempatan yang sampai saat ini pun terasa sulit Ku dapatkan. Aku hanya ingin mengatakan kalau "Aku juga menyukaimu, suka yang dari hati" itu saja.
Si pria cuek yang Ku sebut Mr.Right itu, tanpa sadar Aku menyayangimu. Kamu yang sudah Ku kenal hampir dua tahun lamanya, Aku mengagumimu diam-diam. Selalu banyak hal yang membuatku tiba-tiba tersenyum sendiri saat orang-orang menggodaku setiap kali namamu disebutkan. Atau bahkan mungkin ada juga yang mengagumimu diam-diam sepertiku. Aku yang begitu bodohnya selalu tak bisa menolak setiap sikap manisnya. Menggenggam erat tanganku, mengusap lembut kepalaku, mungkinkah ini rasa sayangnya padaku? Atau, hanya kegeeranku saja?. Kadang, Aku juga selalu lupa caranya mengatur detak jantung ketika bertemu dengannya. Kala itu, jantungku selalu berdegup lebih cepat.
Aku salah sudah mengusik hubungan mereka. Menghindarinya dan menghapus perasaanku padanya memang jalan yang terbaik. Aku teringat sebuah hal yang sempat Ku tanyakan padanya. Tentang hubungan yang 'tak jelas' ini.
"Maaf Cha, Arya gak bisa ninggalin Dia. Rasanya berat kalo harus milih".

Aku hanya tertegun mendengar kejelasan yang terlontar langsung dari bibirnya. Aku seolah merasakan apa yang Ia rasakan saat itu. Bagaimana rasanya meninggalkan seseorang yang telah lama bermukim dihati, itu memang sangat berat. Aku hanya berusaha tak egois. Kau memilihnya, dan Aku memilihmu. Memilih untuk belajar melupakanmu, melupakan semua yang pernah Kita lakukan dan memulai hidup yang baru tanpamu. Tapi, melupakan tak akan pernah mudah. Mengapa di otakku, kamu tidak pernah hilang barang sedetik saja?. Merelakan yang pernah ada menjadi tidak ada adalah kerumitan yang belum tentu kau tahu rasanya. Aku sungguh lelah berlama-lama menghayalkan semua tentangnya, dan harapan-harapan kosong itu. Aku sungguh bodoh.
Aku memilih untuk membuka hatiku untuk orang lain. Walaupun masih ada sisa hati ini untuknya. Berusaha mencintai kekasihku yang baru. Aku hanya sadar bahwa cinta memang tak harus memiliki.
Dan, Aku sangat bersyukur bisa sempat dan di izinkan mengenalnya. Mengenal si Mr.Right. Ia sempat dengan tidak langsung mengajariku arti "kesederhanaan" dan sempat pernah menyukaiku juga. Aku telah mengingkari semuanya. Mengingkari kehadirannya dulu, pernah tak hiraukan perasaannya juga dan mengingkari perasaanku sendiri. Tanpa Aku sadari, cinta ini memang datang terlambat.