Namaku Anisa, tapi kebanyakan orang memanggilku 'icha'. Entah dari mana mereka mendapatkan nama panggilan itu, Aku hanya sedikit aneh dengan nama panggilan itu jauh sekali dari nama asliku. Tapi yang jelas, apapun yang diberikan oleh Orang tuaku, itu tentu yang terbaik untukku.
Keluarga besarku sendiri memang cukup terpandang di kota terpencil ini. Walaupun kami pendatang, tapi tak sedikit yang menganggap kami sebagai saudara dari Ibunya si 'anu', Adik dari Neneknya Nenekku, saudara 'sepengais' bungsu. Ah. Masih banyak istilah-istilah yang begitu sangat asing, awalnya. Kehadiran kami pun diterima baik di kota ini. Almarhum Kakekku yang semasa hidupnya mengabdi sebagai Guru, juga sangat dikenal baik oleh banyak orang karena sosoknya yang senang bergaul dengan siapapun, sampai saat beliau wafat ditahun 2009 silam dan banyak menyisakan kenangan manis bagi orang-orang disekelilingnya, sahabat dan khususnya bagi keluarga besar kami.
Malam pertama saat Nenekku dirawat di rumah, Aku memutuskan untuk menginap. Ditengah-tengah perbincangan kami, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
Tok..tok..tok..!! "Assalamu'alaikum.." Teriakan lembut seorang Pria
"Wa'alaikumsalam.. cari siapa ya?" kataku sambil membukakan pintu
"Maaf, Ibu Endang nya ada? Kami dari Bank depan. Kami dengar tadi pagi kalau Ibu kecelakaan. Dan kebetulan Ibu salah satu nasabah kami". kata seorang wanita lagi
"Oh, iya. Mari, silahkan masuk". Kataku lagi sambil mempersilahkan mereka masuk.
Entah berapa lama mereka ngobrol dengan keluargaku, Aku lekas pergi setelah mempersilahkan mereka masuk. Aku baru pertama kali melihat mereka. Ya, Pria dan wanita yang bekerja tepat di Bank khusus pensiunan depan rumah Nenekku itu sedikit asing bagiku. mereka seperti bukan asli dari kota ini. Yang jelas, saat ku perhatikan saat sedang ngobrol, mereka ramah dan sangat sopan.
Merasa diperhatikan oleh Pria yang baru bertemu beberapa menit, itu tentu sangat aneh. Pria tadi begitu memperhatikanku, sampai menanyakan siapa Aku pada keluargaku.
* * *
Satu minggu berlalu. Aku hampir tidak ingat lagi si Pria yang bekerja di Bank depan Rumah Nenekku itu. Aku hanya menyadari bahwa Dia masih memperhatikanku, bahkan diam-diam meminta nomor Handphoneku pada Tanteku dan jelas Dia menghubungiku. Mengirim pesan singkat, bahkan menelfonku dengan telfon kantornya. Aku tidak begitu merespon kehadirannya dihidupku, karena statusku saat itu sedang 'berpacaran' dengan seseorang yang sangat Aku sayangi. Hingga akhirnya, Aku menyesali semuanya.
Awal Januari 2012, kami berpisah. Selain terhalang restu dari orang tuaku, memang hubungan ini sudah tidak ada lagi hal yang harus dipertahankan. Move On itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, dan 'tak semudah mengucapkannya. Harus dari hati yang benar-benar teguh untuk melakukannya. Godaan Move On itu tidak jauh dari ngestalk akun sosialnya, mengingat kenangan saat masih bersama, atau 'gak sengaja terputar lagu kenangan. Aah..Itu memang sebagian dari penghambat sepertinya. Tidak gampang untuk menaklukkan semuanya, yang jelas Aku hanya selalu teringat satu hal:
"Masalah kehidupan masih banyak, jangan ngabisin waktu buat mikirin orang yang 'gak mikirin kita".
* * *
Tiga bulan lamanya sosok yang ku sebut Mr.Right yang bertamu malam itu dan tanpa sadar telah Ku kagumi diam-diam. Dia tidak pernah menghubungiku lagi. Aku hanya berfikir bahwa mungkin Dia sudah bosan menghubungiku, karena Aku tak pernah membalas satu pun dari pesan singkat yang pernah dikirimkannya padaku.
Aku diam-diam meminta nomor handphonenya lewat Tanteku. Jelas Aku yang kali ini menghubunginya. Deg-degan? tentu. Tak Ku sangka, Dia pun ramah saat Aku pertama kali mengunjungi kantornya saat Ia bekerja, menghampriku juga disela-sela kesibukannya dan tentu Dia membalas pesan singkatku.
Arya. Itulah nama dari si pria yang ku sebut Mr.Right, tentu tidak setampan oppa Jacky Chan Aktor favoriteku, tapi Dia cukup membuatku jatuh hati. Ya, Aku menjulukinya Mr.Right karena kepribadiannya yang menurutku berbeda. Baik, patuh terhadap orang tua, sederhana, rajin sholat dan manja. Itulah beberapa yang ku simpulkan tentangnya, dan dari ibu kostnya juga. Dia memang bukan asli dari kota ini, dan saat itu Ia indekost di dekat rumah Nenekku juga.
Dia sempat mengajakku nonton acara dangdutan disebuah pesta pernikahan dekat Indekostnya pada suatu malam. Lucu memang, inilah hal pertama yang Aku alami dan Aku sangat merasa nyaman setiap kali berada didekatnya.
Tapi rasa nyaman itu hilang seketika, saat terjadi sebuah perbincangan yang cukup mengejutkanku.
"Waktu malem minggu kemaren, kenapa telfon Icha 'gak diangkat?" Tanyaku penasaran
"Hahaha.. Oh, mmm.. itu lagi di rumah pacar" Jawabnya gugup
"Hah?! Serius?!" Tanyaku lagi tak percaya
"Iya, serius. Ngapain Arya bohong" Katanya meyakinkanku.
Aku sendiri hanya diam, shock dan rasa ingin pergi darinya, berteriak dan menangis sejadinya. Tapi apa daya, Aku hanya mencoba tersenyum sebisaku. Mencoba menikmati malam itu berdua dengannya yang Ku lihat, Ia begitu menikmati alunan musik dangdut dari balik senyumnya dan mencoba sebisanya tak Ku tunjukkan kekecewaanku saat itu juga.
"Kok jutek sih. Besok ke kantor yah, ada file Nenek yang harus diambil" Lanjutnya, Ia mencairkan suasana
"Kenapa Icha? Biasanya juga kalo ada apa-apa si tante yang kesana? Besok Icha mau ke Serang" Kataku polos
"Ngapain ke Serang?"
"Pindahan" Jawabku singkat
"Pindah?" Tanyanya lagi
"Iya pindah, Icha mau tinggal disana" Jelasku cuek
"Kalo mau pindah, ngapain dong sekarang ketemu?! Sekalian aja jangan ketemu" Katanya sedikit kesal.
Aku terdiam saat itu. Sedikit tertawa kecil dari balik tubuhnya yang sangat tinggi, melihat kejutekkan yang Ia lakukan.
"Hehehe.. Sebenernya ngga' pindak kok, cuma mau liburan aja. Maaf ya kak" Kataku sedikit menggodanya
"Trus, berangkat jam berapa?" Dia mulai meresponku lagi
"Subuh kayaknya, jam 5an. Kenapa? Mau ikut?" Candaku lagi
"Yaudah atuh, masuk gih. Besok kan mau berangkat subuh" Katanya, saat mengantarku pulang.
Dari semenjak pertemuan malam itu, Aku semakin dibuat bingung oleh sikapnya. Kami malah semakin dekat. Tentu, tetap tidak ada hubungan yang jelas. Mulai dari salah satu diantara kami mengirim pesan singkat atau telfon duluan, Aku yang sekedar memberikan surprize kecil dihari ulang tahunnya, sarapan berdua, mengantarkan makan siang untuknya, sampai makan sepiring berdua kami lakukan. Saat suatu ketika perasaan itu muncul kepadaku, yang datang seenaknya diwaktu yang sangat tidak tepat. Yang Aku sendiri pun tak mengerti ini apa. Kami pun hanya bisa bertemu pada malam hari, saat Ia selesai bekerja. Hanya itu waktu senggang yang Ia berikan untukku. Karena setiap week end Ia akan pulang ke rumahnya, rumah yang sesungguhnya dan juga pulang pada kekasihnya. Aku menyadari bahwa ini sangat tidak wajar.
Hingga pada suatu malam kami bertemu, dan Dia sukses membuatku speechless saat sebuah pertanyaan Ia lontarkan kepadaku.
"Cha, jujur yah. Kamu suka 'gak sama Arya?" Tanyanya mengejutkanku. Aku hanya tertawa lepas tak percaya saat itu.
"Cha serius, Kamu suka 'gak sama Arya?" Tanyanya lagi dengan nada serius.
"Kalo ka Arya sendiri?" Kataku
"Iya. Kalo Icha sendiri, gimana sama Arya?"
"mmm.. Suka itu beragam. Ada suka karena ngefans, suka biasa aja dan dari hati" Jawabku ragu
"Kamu bilang gitu karna Arya punya pacar?. Baru pacar kok Cha belum jadi istri, yang nikah aja masih bisa cerai, yang tunangan juga masih bisa putus, apalagi yang pacaran" Jelasnya yang membuatku semakin diam tak percaya.
Aku sangat sadar bahwa saat itu Aku telah melewati kesempatan yang datangnya entah kapan lagi. Kesempatan untuk mengungkapkan perasaaku juga padanya. Kesempatan yang sampai saat ini pun terasa sulit Ku dapatkan. Aku hanya ingin mengatakan kalau "Aku juga menyukaimu, suka yang dari hati" itu saja.
Si pria cuek yang Ku sebut Mr.Right itu, tanpa sadar Aku menyayangimu. Kamu yang sudah Ku kenal hampir dua tahun lamanya, Aku mengagumimu diam-diam. Selalu banyak hal yang membuatku tiba-tiba tersenyum sendiri saat orang-orang menggodaku setiap kali namamu disebutkan. Atau bahkan mungkin ada juga yang mengagumimu diam-diam sepertiku. Aku yang begitu bodohnya selalu tak bisa menolak setiap sikap manisnya. Menggenggam erat tanganku, mengusap lembut kepalaku, mungkinkah ini rasa sayangnya padaku? Atau, hanya kegeeranku saja?. Kadang, Aku juga selalu lupa caranya mengatur detak jantung ketika bertemu dengannya. Kala itu, jantungku selalu berdegup lebih cepat.
Aku salah sudah mengusik hubungan mereka. Menghindarinya dan menghapus perasaanku padanya memang jalan yang terbaik. Aku teringat sebuah hal yang sempat Ku tanyakan padanya. Tentang hubungan yang 'tak jelas' ini.
"Maaf Cha, Arya gak bisa ninggalin Dia. Rasanya berat kalo harus milih".
Aku hanya tertegun mendengar kejelasan yang terlontar langsung dari bibirnya. Aku seolah merasakan apa yang Ia rasakan saat itu. Bagaimana rasanya meninggalkan seseorang yang telah lama bermukim dihati, itu memang sangat berat. Aku hanya berusaha tak egois. Kau memilihnya, dan Aku memilihmu. Memilih untuk belajar melupakanmu, melupakan semua yang pernah Kita lakukan dan memulai hidup yang baru tanpamu. Tapi, melupakan tak akan pernah mudah. Mengapa di otakku, kamu tidak pernah hilang barang sedetik saja?. Merelakan yang pernah ada menjadi tidak ada adalah kerumitan yang belum tentu kau tahu rasanya. Aku sungguh lelah berlama-lama menghayalkan semua tentangnya, dan harapan-harapan kosong itu. Aku sungguh bodoh.
Aku memilih untuk membuka hatiku untuk orang lain. Walaupun masih ada sisa hati ini untuknya. Berusaha mencintai kekasihku yang baru. Aku hanya sadar bahwa cinta memang tak harus memiliki.
Dan, Aku sangat bersyukur bisa sempat dan di izinkan mengenalnya. Mengenal si Mr.Right. Ia sempat dengan tidak langsung mengajariku arti "kesederhanaan" dan sempat pernah menyukaiku juga. Aku telah mengingkari semuanya. Mengingkari kehadirannya dulu, pernah tak hiraukan perasaannya juga dan mengingkari perasaanku sendiri. Tanpa Aku sadari, cinta ini memang datang terlambat.