Aku masih menyimpan baik pesan singkat yang kamu kirimkan padaku
enam belas februari lalu. Harusnya aku menghapusnya. Karna aku tahu, itu hanya
akan membuatku menangis; untuk kesekian kalinya.
Saat ini, aku
juga sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Andai kamu tahu. Aku sedang
dalam keadaan bingung harus memulai dari mana untuk melupakan kamu dan semua
perasaan-perasaan ini tanpa harus membenci kamu. Aku juga masih sangat sering
merindukan kamu. Biasanya –kalau aku merindukanmu- aku mengirimimu pesan
singkat, walau hanya sekedar berkata “Lagi apa, kak?” dan menunggu balasan
darimu, itu sudah cukup membuat rinduku terobati. Aku ini, wanita macam apa
yang punya rindu untuk kamu. Ini memang tak pantas. Sangat tak pantas.
Sekarang, tak banyak yang bisa aku lakukan saat rindu yang semakin hari semakin
menggebu, yang sebenarnya sudah tak ingin ku rasakan ini hadir. Rasa ingin
mengirimimu pesan singkat selalu ada. Bahkan, nomor dengan nama yang sama yang
belum pernah ku ganti atau ku hapus dari dua tahun lalu itu masih tersimpan
baik dikontak ponselku.
Kamu juga masih
sangat sering hadir dalam fikiranku, seperti film yang sedang diputar di
Bioskop, tanpa ku minta. Seandainya kamu membaca tulisan ini, aku ingin sedikit
menggali ingatanmu; tentangku, tentang pertemuan pertama kita, dan semuanya.
Tapi mungkin, kamu sudah lupa atau sengaja melupakannya.
Untuk yang satu ini, apa kamu masih ingat, yang terjadi malam minggu
sebelum enam belas februari lalu itu? Aku ingatkan. Malam minggu itu, dipesan
singkat, aku menyatakan perasaan yang ku pendam dalam diam saat kita bertemu,
dalam diam dari setiap sikapku dihadapanmu, dalam diam saat kamu genggam erat
tanganku, dalam diam saat tatapan mata aku dan kamu yang pernah saling
terbentur diudara, dan dalam segala sikap manis yang pernah kamu tunjukkan
padaku dari pertemuan waktu itu, waktu kamu mengajakku menonton dangdutan di
acara Hajatan.
Iya. Wanita pengecut dan dingin ini pernah mencintai kamu. Aku tak sedang
berbohong atau bergurau tentang perasaanku. Aku tak pernah berani menjelaskan
yang sesungguhnya dihadapanmu saat kita bertemu di sabtu sore sebelum enam
belas februari itu. Menjelaskan alasanku mengapa menggukan fotomu untuk display
picture bbm-ku. Tapi seketika hatiku terluka, saat kamu takut
kedekatan –aku dan kamu- yang bukan teman bahkan tanpa status apa-apa ini
diketahui oleh kekasihmu. Aku sangat muak padamu saat itu. Apa kamu tahu? Saat
itu mataku sudah tak tahan menampung air mata yang kalau aku tak beranjak cepat
untuk pulang, mungkin akan membanjiri pipiku dan terlihat olehmu. Aku sangat
tak ingin itu terjadi.
Aku memang wanita bodoh. Berharap pada seorang pria baik yang sangat
mencintai kekasihnya. Aku tak pernah mengerti, mengapa aku bisa jatuh cinta
pada pria sepertimu yang tak akan pernah bisa kumiliki. Aku tak pernah ingin
egois. Kamu juga pernah bertanya apa yang aku inginkan darimu, kan?. Kalau saat
itu aku tak memikirkan perasaan kekasihmu, aku akan menjawab, aku menginginkan
kamu menjadi milikku, menemani hidupku sampai hari tuaku. Tapi sekali lagi aku
tegaskan, aku tak pernah ingin egois. Aku tak ingin memaksamu.
Harusnya, sedari dulu aku sudah mengerti. Dengan semua sikap yang kamu
tunjukkan padaku, itu sudah menjawab seluruh pertanyaan yang tertanam selama
ini dikepalaku, kalau kamu tak pernah menyimpan perasaan yang sama.
Wanita
yang tak pernah kamu anggap ada ini, mengalah. Demi kamu yang pernah
menjadikanku persinggahan. Demi kamu yang mungkin sebentar lagi akan bersanding
dengannya dipelaminan. Demi kamu yang masih sangat kucintai. Terimakasih untuk
semua kebaikanmu yang sering banyak kuminta. Terimakasih untuk seluruh waktu
yang pernah kamu bagi untukku. Terimakasih juga untuk semua pengharapanku yang
kamu patah dan hempaskan begitu saja. Aku tak berjanji akan cepat mencintai
pria lain lagi setelah mencintai kamu. Aku pasti akan dapat pria baik, seperti
katamu di pesan singkat, enam belas februari itu.
“Ampuni
aku yg telah memasuki kehidupan kalian,
mencoba
mencari celah dalam hatimu..” -
1
Teruntuk kamu, miliknya yang pernah sangat ku perjuangkan, “A”.
Teruntuk kamu, miliknya yang pernah sangat ku perjuangkan, “A”.
_________________